
Kolaborasi Tiga Prodi UAD STAIN Majene Perkuat Literasi Keislaman Santri DDI Kaballangang
PINRANG — Jurusan Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (UAD) STAIN Majene menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan ini melibatkan tim pengabdi yang terdiri atas dosen dan mahasiswa dari tiga program studi di lingkungan Jurusan UAD, yakni Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), serta Bahasa dan Sastra Arab (BSA).
Bertempat di Masjid Al-Wasilah, PkM mengangkat tema “Penguatan Literasi Keislaman dan Kompetensi Santri di Era Digital melalui Al-Qur’an, Bahasa Arab, dan Komunikasi Dakwah.” Sekitar 100 santri Madrasah Aliyah kelas X, XI, dan XII mengikuti kegiatan bersama para guru dan pembina. Kepala Madrasah Aliyah, Syahrir Khatib, S.Pd., turut hadir mendampingi para santri.

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Pimpinan Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangang, AGH. Dr. (H.C.) Muh. Rasyid Ridha Ambo Dalle, M.Pd.
Dalam sambutannya, pimpinan pondok menyampaikan rasa bahagia dan haru atas kehadiran tim STAIN Majene. Ia mengingatkan para santri tentang pentingnya adab, kepatuhan, dan kesungguhan dalam mengikuti kegiatan-kegiatan positif. Menurutnya, kehadiran dan keterlibatan dalam ruang pembelajaran yang baik dapat memberi dampak positif bagi perkembangan pengetahuan maupun pembentukan sikap santri.
Pada kesempatan yang sama, ia juga memaparkan kondisi dan dinamika pendidikan di lingkungan pesantren kepada tim pengabdi.

Sekretaris Jurusan UAD STAIN Majene, Rahmat Nurdin, M.Ag., menyampaikan terima kasih atas penerimaan dan sambutan hangat yang diberikan pihak pesantren kepada rombongan STAIN Majene. Ia mengapresiasi keterbukaan pimpinan pondok, para guru, pembina, dan santri, sebelum secara resmi membuka kegiatan PkM.
Memasuki sesi utama, tiga materi disajikan dalam format panel yang dimoderatori Muhammad Dirman Rasyid, Lc., M.Ag. Tiga narasumber tampil mewakili bidang keilmuan masing-masing, yakni Sulkifli, M.Th.I. dari Prodi IAT, Dr. Nirwan Wahyudi AR, S.Sos., M.Sos. dari Prodi KPI, dan Syarifuddin, S.S., M.Hum. dari Prodi BSA.
Sulkifli membuka panel melalui materi “Melek Al-Qur’an–Melek Digital, Haruskah?” Ia mengajak para santri mencermati posisi Al-Qur’an di tengah budaya serba instan dan derasnya arus informasi pada era post-truth. Kecakapan menggunakan teknologi, menurut materi yang disampaikan, perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memahami Al-Qur’an agar santri memiliki pijakan dalam menyikapi berbagai informasi yang mereka temui.
Santri didorong untuk tidak berhenti pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengenali ilmunya, memahami kandungannya, kemudian menerapkannya dalam kehidupan. Semangat mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an juga menjadi salah satu pesan utama dalam sesi tersebut.

Perspektif komunikasi kemudian disampaikan Nirwan Wahyudi AR melalui materi “Dakwah Digital: Apa, Mengapa, dan Bagaimana?” Ia mengajak para santri melihat dakwah secara lebih luas, tidak hanya melalui ceramah, khotbah, tablig akbar, atau mimbar masjid.
Perubahan pola interaksi masyarakat membuat ruang digital menjadi bagian penting dalam aktivitas dakwah. Media dan metode dapat berkembang mengikuti perubahan zaman, sementara pesan kebaikan tetap menjadi substansi yang dibawa.
Nirwan juga menyoroti kuatnya pengaruh konten digital terhadap pikiran, sikap, dan tindakan seseorang. Karena itu, keberhasilan dakwah digital tidak semata-mata diukur melalui jumlah like, komentar, share, pengikut, atau penonton, tetapi pada sejauh mana pesan yang disampaikan mampu menambah pengetahuan, mencegah kesalahpahaman, memperbaiki sikap, dan mendorong perilaku yang lebih baik.

Sesi panel dilanjutkan Syarifuddin dengan materi “Literasi Digital Santri: Menyelami Dunia Keislaman Tanpa Batas melalui Bahasa Arab.” Ia menjelaskan bahwa Bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai bahasa agama, tetapi juga sebagai alat komunikasi, bahasa ilmu pengetahuan, serta bahasa kebudayaan dan peradaban.
Di tengah perkembangan teknologi, kemampuan Bahasa Arab membuka akses yang semakin luas terhadap sumber-sumber keislaman. Santri dapat memanfaatkannya sebagai alat tabayyun, mengakses kitab turats dan manuskrip yang telah terdigitalisasi, hingga menggunakan kecerdasan buatan secara lebih produktif. Kompetensi Bahasa Arab juga membuka peluang di berbagai bidang, mulai dari penerjemahan dan penelitian hingga produksi konten digital.

Suasana panel berlangsung interaktif. Para santri aktif mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan narasumber, serta merespons berbagai persoalan yang dibahas sepanjang sesi. Interaksi tersebut membuat kegiatan tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian materi, tetapi berkembang menjadi ruang dialog antara tim pengabdi dan para santri.

Keaktifan peserta mendapat apresiasi dari Ketua Panitia PkM, Aldiawan, S.Kom.I., M.Sos. Sejumlah santri yang aktif bertanya maupun berhasil menjawab pertanyaan memperoleh voucher belanja sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi mereka.
Menjelang penutupan, sertifikat diserahkan secara simbolis kepada para santri oleh perwakilan tiga program studi. Prodi IAT diwakili Ketua Prodi Muhammad Nur Murdan, S.Th.I., M.Th.I., Prodi KPI oleh Ketua Prodi Dr. Nirwan Wahyudi AR, S.Sos., M.Sos., sementara Prodi BSA diwakili Fikriyah Mahyaddin, M.Pd.

Jurusan UAD juga menyerahkan cenderamata kepada Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangang. Cenderamata diserahkan oleh Rahmat Nurdin kepada pimpinan pondok, kemudian dilanjutkan dengan foto bersama tim pengabdi, pimpinan pesantren, para guru, pembina, dan santri.
Kebersamaan antara kedua lembaga berlanjut selepas kegiatan. Tim pengabdi STAIN Majene mendapat jamuan makan siang di kediaman pimpinan pondok dalam suasana kekeluargaan.

Keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam satu tim pengabdian turut membuka ruang interaksi yang lebih luas dengan para santri. Bagi mahasiswa, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk bersentuhan langsung dengan lingkungan pesantren dan melihat penerapan keilmuan di tengah masyarakat.
Melalui kolaborasi IAT, KPI, dan BSA, PkM tersebut mempertemukan tiga perspektif yang saling melengkapi: Al-Qur’an sebagai pijakan dalam membaca perubahan zaman, Bahasa Arab sebagai pintu menuju khazanah keislaman, serta komunikasi dakwah sebagai bekal untuk hadir secara positif dan bertanggung jawab di ruang digital.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat ruang perjumpaan antara kampus dan pesantren dalam berbagi pengetahuan serta merespons tantangan yang dihadapi generasi santri di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat.
ID
EN
AR